News Pangkajane Sidenreng – Sebuah ambulans laut milik Pemerintah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, dilaporkan hilang kontak di perairan sekitar Pulau Sailus Besar pada Rabu (16/10/2025) malam.

Hingga Kamis pagi, tiga awak kapal masih belum ditemukan dan operasi pencarian terus dilakukan oleh Basarnas Makassar bersama aparat setempat.
Baca Juga : Seribu Tentara Disebar di 175 Desa, Luwu Utara Pilot Project Pembentukan Batalyon Pangan
Ambulans laut tersebut diketahui berangkat dari Pulau Sabalana menuju Pelabuhan Maccini Baji di Pangkep, membawa seorang pasien yang membutuhkan perawatan darurat di rumah sakit daratan. Namun, sekitar pukul 21.30 WITA, komunikasi dengan kapal tiba-tiba terputus.
“Terakhir kali kapal memberi kabar melalui radio, mereka melaporkan kondisi cuaca memburuk dan ombak tinggi mencapai dua meter,” ungkap Kepala BPBD Pangkep, Muhammad Ridwan, Kamis (17/10/2025).
Basarnas Kerahkan Tim Gabungan untuk Pencarian
Mengetahui hilangnya kontak, Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar segera mengerahkan tim SAR gabungan menggunakan dua kapal penyelamat untuk melakukan pencarian di sekitar lokasi terakhir ambulans laut terpantau radar.
Kepala Basarnas Makassar, Melkianus Kotta, menyebut operasi pencarian dibagi menjadi dua sektor, dengan fokus utama di sekitar perairan Pulau Sailus dan Pulau Satanger.
Tim juga dibantu oleh nelayan lokal dan personel Polairud Polda Sulsel untuk memperluas area pencarian.
“Cuaca masih cukup ekstrem. Angin barat menyebabkan gelombang tinggi dan jarak pandang terbatas, tapi pencarian tetap kami lanjutkan,” kata Melkianus.
Pihak Basarnas juga mengonfirmasi bahwa kapal membawa empat orang, terdiri dari satu pasien, satu tenaga medis, dan dua awak kapal. Pasien dan tenaga medis ditemukan selamat pada Kamis dini hari setelah terombang-ambing di laut selama beberapa jam.
Sementara itu, tiga awak lainnya masih dinyatakan hilang.
Cuaca Buruk Jadi Tantangan Utama
Berdasarkan laporan dari BMKG Maritim Makassar, cuaca ekstrem memang melanda perairan Pangkep dalam beberapa hari terakhir.
>Gelombang tinggi hingga tiga meter dan kecepatan angin mencapai 25 knot menjadi faktor risiko utama bagi kapal berukuran kecil seperti ambulans laut.
“Kami sudah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem sejak Selasa, terutama untuk wilayah perairan Spermonde hingga Sabalana. Kami imbau kapal kecil untuk tidak berlayar sementara waktu,” jelas Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Makassar, Rahmawati.
Situasi ini menyoroti kembali pentingnya protokol keselamatan pelayaran, terutama bagi kapal yang beroperasi dalam kondisi cuaca buruk. Pemerintah daerah diimbau untuk memastikan seluruh kapal ambulans laut dilengkapi alat komunikasi darurat dan pelampung keselamatan lengkap.
Pemkab Pangkep Bentuk Posko dan Siapkan Dukungan Keluarga
Pemerintah Kabupaten Pangkep melalui Dinas Kesehatan dan BPBD telah membentuk posko tanggap darurat di Pelabuhan Maccini Baji.
Keluarga korban juga telah didampingi tim trauma healing sambil menunggu perkembangan terbaru dari lapangan.
“Kami terus berkoordinasi dengan Basarnas dan pihak kepolisian. Harapannya semua awak bisa ditemukan dalam keadaan selamat,” kata Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau.
Pihak pemerintah juga berjanji akan melakukan evaluasi sistem operasional ambulans laut. Termasuk penjadwalan pelayaran dan peningkatan pelatihan keselamatan bagi awak kapal.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa layanan transportasi medis laut yang vital di wilayah kepulauan. Juga harus diimbangi dengan kesiapan menghadapi risiko cuaca ekstrem yang sering melanda perairan Sulawesi Selatan.








